Profil Luviana

Luviana, lahir di Klaten, Jawa Tengah pada bulan Oktober. Lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta dan Pascasarjana Universitas Paramadina.

Saat ini, selain menjadi kontributor Kantor Berita Radio (KBR), dosen di Universitas Paramadina, ia juga founder dan pengelola www.konde.co dan Konde Institute, sebuah situs media online dan lembaga yang memperjuangkan perempuan dan kelompok minoritas di media.

Sebelumnya, pernah bekerja sebagai jurnalis di Radio RB FM Yogyakarta, Jurnal Perempuan dan Metro TV.

Ia juga terlibat dalam advokasi jaringan buruh, perempuan dan miskin kota.

Pernah mendapatkan Penghargaan “Tasrif Award” dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) di tahun 2013, Nominator “N-Peace Award” dari United Nations (UN) di tahun 2014 dan Penghargaan “LBH Jakarta Award” dari LBH Jakarta di tahun 2015.

Menulis sejumlah buku: “ Perempuan Parlemen Dalam Cakrawala Politik Indonesia” (Kaukus Perempuan Parlemen DPD RI and Dian Rakyat, 2013), Fasilitator untuk buku para korban Hak Asasi Manusia/ HAM “Payung Hitam Keadilan” (Kontras dan Peace Women Across the Globe, 2011), menulis buku “Jejak Jurnalis Perempuan” AJI dan FNV (2012), buku Jurnalisme Peduli Anak” (Aliansi Jurnalis Independen dan ILO (International Labour of Organization) (2006) dan buku “Media, Gender: Preferensi Jurnalis” ((LP3Y, Ford Foundation, 2004).

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Luviana: Stereotype Perempuan dalam Media

Stereotipe Perempuan dalam Media
Bagaimana media menciptakan gambaran tentang perempuan?
 Luviana: http://www.remotivi.or.id/amatan/28/Stereotipe-Perempuan-dalam-Media

Kapan perempuan pertama kali mendapatkan stereotipe sebagai orang yang mudah menangis, tidak mandiri, meledak-ledak emosinya, dan pemarah? Sejak ia lahir dan mengenal lingkungannya, atau sejak lingkungan membentuknya pada konstruksi hierarki gender yang melekat?

Stereotipe ini memproyeksikan pola pikir masyarakat pada tubuh perempuan. Pada rambut yang harus lurus dan panjang, pada mata yang harus lentik, pada bibir yang harus memerah ranum dan pada tubuh yang harus tinggi dan langsing. Kalangan feminis pasca-modern meyakini bahwa stereotipe terhadap perempuan tersebut kemudian dibesarkan oleh industri media.

Pendekatan feminis-strukturalis Simone de Beauvoir telah mengilhami Ortner (1974) dalam menilai bahwa subordinasi perempuan secara universal adalah dampak dan fungsi khas mereka dalam tradisi dan budaya yang melekat di masyarakat. Perempuan dianggap sebagai pengasuh dan orang yang membesarkan anak. Perempuan juga selalu diidentifikasi pada ranah rumah tangga.

Pada posisi yang berbeda, hieraki gender menempatkan laki-laki sebagai gender yang perkasa, selalu menang, tak pernah menangis, dan hanya bertanggungjawab secara publik—bukan secara domestik. Hal inilah yang membuat orang-orang di luar hierarki menjadi kesulitan untuk diterima dalam nilai-nilai tersebut.  Padahal, di luar dua kelompok gender tersebut ada juga kelompok lesbian, gay, biseksual, transeksual (LGBT), yang keberadaannya dipinggirkan.

Konstruksi gender dalam konteks patriarki membuat perempuan sulit untuk mengubah“takdirnya”. Bukan hanya perempuan, orang-orang yang hidup di luar hierarki gender pun terpinggirkan; kelompok LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender), misalnya, menjadi sulit diterima dan sulit dibahasakan di kalangan masyarakat.

Di Barat, hierarki gender terjadi sejak manusia mengkonstruksikannya. Walau pun konstruksi ini terus berubah, namun sepanjang sejarah—sejak masa pemerintahan demokrasi modern Pericles di Yunani, masa Revolusi Industri di Eropa di abad 16, hingga sekarang—perempuan tak pernah lepas dari penilaian, dari konstruksi. Konstruksi ini pun merasuk dalam seni dan kebudayaan sehari-hari. Pada masa Revolusi Industri, konstruksi ini mengemuka dalam Monalisa karya Leonardo da Vinci. Hari ini, mengejawantah dalam boneka Barbie.

Stereotipe yang melekat pada perempuan dan hierarki gender yang baru ini kemudian menimbulkan sejumlah persoalan baru yang terjadi di masyarakat. Misalnya, perempuan mengalami berbagai hambatan karena nilai-nilai yang melekat dalam masyarakat membatasi akses dan kesempatannya. Stereotipe inilah melestarikan kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan, dan industri media kita merupakan propagandis terdepan dalam mengkampanyekan stereotipe tersebut.

Peran Media

Dalam media di Indonesia stereotipe ini melekat dalam berbagai tayangan; dari sinetron, infotainment, telewicara, hingga berita. Gambaran tentang perempuan pemarah, pencemburu, pendendam ada dalam tayangan sinetron. Tayangan infotainment memprogandakan pasangan sebagai hal yang paling penting dalam kehidupan perempuan. Jika seorang artis perempuan tidak berpasangan, maka ia akan terus dikejar-kejar pertanyaan pekerja infotainment. Status lajang menjadi status buruk bagi perempuan yang dilekatkan oleh infotainment di televisi kita.

Hal lainnya adalah status cantik yang melekat dalam industri media televisi. Siapa saja yang tampil menjadi selebritas di televisi harus selalu cantik. Jika tak cantik, maka seorang perempuan akan mendapatkan ejekan: tak seksi, kurang putih, mukanya kurang menjual, kalah pamor dari perempuan cantik lainnya.

Stereotipe cantik ini tidak hanya terjadi dalam industri periklanan, namun telah menjalar di ruang-ruang redaksi di pemberitaan televisi—stereotipe yang sangat jarang terjadi di ruang redaksi di media cetak maupun radio.

Stereotipe yang berkisar dalam hal kecantikan inilah yang akhirnya membuat perempuan membenci tubuhnya. Para perempuan membenci wajahnya yang kurang cantik, kakinya yang kurang panjang dan tubuhnya yang terlalu gemuk. Akibatnya, perempuan menjadi pemimpi—ingin berubah wujud menjadi tubuh yang diinginkan industri. Karena prasyarat cantik inilah yang kemudian digunakan untuk menentukan identitas seseorang, yaitu dengan simbol-simbol, signifikasi, representasi dan semua bentuk citra. Kriteria inilah yang sering dilabelkan bagi pada seseorang atau kelompok tertentu.

Tak hanya itu, industri media kemudian memecah-belah perempuan. Ada pengkotak-kotakkan: perempuan berwajah cantik vs perempuan berwajah pas-pasan, perempuan putih vs perempuan berkulit hitam. Dan ini kemudian dibesarkan oleh mode, fashion dan juara ratu-ratuan sejagat. Media televisi, dalam kultur indutri di Indonesia turut membesarkannya.

Hal ini bisa kita lihat dari periodisasi pers di Indonesia. Dari perspektif perempuan, pers di Indonesia memang telah mengalami dua periode yang memprihatinkan.

Pada era Orde Baru, media berada dalam kekangan pemerintah. Pers dilarang untuk kritis, tidak ada kebebasan berpendapat dan berekspresi bagi masyarakat. Kondisi ini juga membuat minimnya penguatan perempuan di media. Isu perempuan dikonstruksikan sesuai selera pasar. Banyak media massa yang muncul hanya menawarkan konsumerisme dan justru mengkonstruksikan kembali perempuan sebagai orang mengurus domestik. Selain itu lebih banyak media di jaman Orde Baru menuliskan perempuan sebagai bagian dari gaya hidup modern. Ini adalah periode terburuk dalam kehidupan pers berperspektif perempuan di Indonesia.

Sejak peristiwa reformasi 1998 hingga saat ini, katup kebebasan yang dulu tertutup dibuka lebar untuk pers. Namun saat ini pers di Indonesia tumbuh secara liberal. Pada masa ini, seharusnya suara publik/masyarakat banyak didengar, namun justru yang terjadi sebaliknya: media hanya melayani informasi terkait kehidupan elit, merendahkan perempuan melalui tayangan sinetron, berita dan iklan yang bias gender. Perempuan masih  dikonstruksikan di dalam sinetron, iklan dan berita secara sretereotip sebagai orang yang emosional, cerewet, sangat senang mengurusi persoalan personal orang lain, cengeng.

Dalam dua periode tersebut, siaran informasi dan komunikasi yang sehat bagi publik perempuan yang seharusnya diproduksi sebagai wujud demokratisasi media, sangat jarang kita lihat. Yang terjadi, perempuan dilihat hanya sebagai konsumen. Dalam media online, perempuan banyak mendapatkan kekerasan dan stereotiping.

Jaminan Negara

Media merupakan salah satu klausul dalam pembahasan 12 isi deklarasi Beijing Platform for Action, sebuah deklarasi internasional yang dimotori oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menumbuhkan kesetaraan, pembangunan, serta perdamaian dunia. Dalam konferensi regional perempuan Beijing+20 di Bangkok tahun 2014, serta konferensi yang sama di tingkat internasional di New York tahun 2015, stereotipe perempuan di media merupakan salah satu pembahasan utama. Pemerintah Indonesia merupakan salah satu negara peserta dalam konferensi yang diadakan PBB ini.

Dalam putusannya, konferensi di tingkat regional Asia Pasifik kemudian mengeluarkan putusan untuk klausul perempuan dan media. Putusan tersebut berbunyi: “Pemerintah akan menjamin tidak adanya stereotipe di media yang mengakibatkan pada diskriminasi terhadap perempuan di media, dan Pemerintah akan membuka partisipasi terhadap perempuan di media dan dalam menggunakan teknologi. Pemerintah juga memastikan tidak terjadi kesenjangan dalam penggunaan teknologi dan adanya kebebasan berekspresi.”

Jika kita runut tentang persoalan yang terjadi di media di Indonesia serta komitmen pemerintah tentang ini, ada 3 persoalan yang harus dilakukan pemerintah untuk memperbaiki nasib perempuan melalui media.

Pertama, pemerintah harus menjamin adanya partisipasi yang melibatkan perempuan dan kelompok rentan dalam media. Kedua, Pemerintah harus menjamin adanya perbaikan pada nasib buruh perempuan media. Ketiga, Pemerintah harus menjamin bahwa media tidak digunakan untuk kepentingan ekonomi-politik pemilik media semata. Mengapa pemerintah harus menjamin soal ini?

Dalam era konglomerasi hari ini, media yang digunakan untuk kepentingan politik dan ekonomi para pemiliknya sangat berorientasi pada pasar, karena ritme politik pemilik media selalu didukung oleh ritme ekonomi.

Logika ini kemudian juga melihat bahwa berita yang “besar” adalah berita yang mendatangkan banyak keuntungan, dan berita yang “kecil” adalah berita yang tidak mendatangkan rating/share, klik, dan oplah yang besar. Orientasi inilah yang terjadi hingga sekarang.

Dalam skala 15 tahun sesudah reformasi, orientasi industri tampak di sejumlah media di Indonesia. Media online yang tumbuh dengan menyajikan berita yang menjual sensasi dan menjadikan perempuan sebagai objek berita. TV meraup untung dengan menayangkan sinetron dan infotainment yang mengubek-ubek kehidupan pribadi. Di luar orientasi pasar yang sering didaku sebagai penyebab tayangan diskriminatif ini, media—pertelevisian kita, terutama—disetir pula oleh orientasi politik pemiliknya. Televisi telah menjadi panggung politik bagi para pemilik medianya. Maka tak heran jika ada pemilik media yang kemudian berseliweran berpidato atas nama partainya atau hotel dan resto yang dibangunnya.

Sistem pers demokratis merupakan cita-cita bersama. Secara umum, pers demokratis tidak menyerahkan mekanisme pers pada pasar, dan tidak menyerahkan keperuntungannya pada pemilik media yang hanya mencari keuntungan ekonomi dan pemilik media yang berpolitik.

Negara seharusnya menjadi fasilitator keterbukaan masyarakat dan memfasilitasi berbagai regulasi serta penguatan regulator dalam konteks partisipasi masyarakat berperspektif gender dan menjamin independensi. Dengan demikian, berbagai persoalan masyarakat marjinal seperti perempuan, anak, korban HAM, buruh, nelayan, miskin kota, petani, difabel,dan  LGBT,  bisa masuk menjadi isu penting di media. []


Daftar pustaka

Ortner, Sherry B.1974. “Is Female to Male as Nature is to Culture?”. Dalam M.Z. Rosaldo dan L. Lamphere (editor), Women, Culture, and Society. Standord, CA: Stanford University Press

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Khamid Istakhoiri: Luviana, LBH Award 2015

LUVI!

LBH Jakarta Award, sebuah penghargaan dari LBH Jakarta untuk klien yang berdedikasi bagi penguatan komunitas, menggunakannnya untuk memperkuat basis dan upaya Bantuan Hukum Struktural. Tahun 2015, jatuh pada Luviana, mantan jurnalis Metro TV yang berjuang bersama melawan PHK dan pemberangusan upaya membentuk serikat di Metro TV.

Sebuah keberhasilan, seperti yang disebutkan Luviana dalam penerimaan penghargaan itu, selalu mengisyaratkan keterlibatan banyak pihak. LBH Jakarta

Luviana dalam penerimaan penghargaan itu, selalu mengisyaratkan keterlibatan banyak pihak. LBH Jakarta, sebagai kuasa hukum, aliansi METRO (Melawan Topeng Restorasi), crew film yang kemudian berhasil melaunching sebuah film berjudul Di Balik Frekuensi (DBF).

Saya masih ingat, ketika itu ikut terlibat dalam mengedarkan petisi dukungan untuk Luviana. Dalam berbagai pertemuan (menjelang pemilu) ketika itu, di Palembang, Pekan Baru dan juga Karawang. Muncul pertanyaan apakah ini upaya menggembosi partai tertentu? Saya meyakinkan bukan! Ini upaya kecil untuk membela kawan kita, buruh di tempat lain meskipun mungkin anda tidak mengenalnya.

Yohana Sudarsono, dengan kemampuannya yang sangat bagus dalam bahasa Inggris membantu menerjemahkan materi kampanye, menyebarkannya melalui jaringan-jaringan internasional dan kemudian petisi bergulir ke seantero penjuru.

Pekerjaan melakukan kampanye, mungkin bukan pilihan hebat bagi sebagian orang, tapi tetap harus dilakukan dengan segala kesulitannya. Sebab, cara inilah yang berhasil mengedukasi masyarakat diluar sana berkaitan dengan issu yang kita geluti. Ini upaya kecil melawan dominasi korporasi media yang membabi buta, sekali lagi (SUNGGUH SIAL), sudah babi, buta lagi!

Hari ini, dengan kesusahan yang luar biasa kita juga sedang menggalang kampanye serupa melawan Honda. Korporasi raksanan negeri sakura. Kesulitan yang sama dengan medan berbeda, demikian kira-kira. Dan saya berbahagia, menjadi kurir yang kesana kemari mengedarkan kampanye itu, meskipun belum menemukan titik keberhasilan. Tapi saya percaya, tidak ada perjuangan yang sia-sia, meski yang lain mencela.

LUVI Luvianaketika , tularkan energimu kepada kawan-kawan Serikat Buruh Kerakyatan Honda di Karawang sana!

 

Luviana Terimakasih teman teman telah menjadi guru yang baik selama ini..

Tuti Fmkj
Tuti Fmkj selamat ya mba luvi..

Nanda Tandjung
Dian Irawan
Dian Irawan Mba Luviana … Proud of you mba … Always

Luviana
Tulis komentar…

Cari delapan titik perbedaannya!

-ternyata mereka bersaudara, baru terungkap kemarin di LBH Jakarta-

Foto Khamid Istakhori.
Foto Khamid Istakhori.
Foto Khamid Istakhori.
Yohana Sudarsono Delapan? Beda itu jelas kali, Om… Gadis Merah jauh lebih militan dan progresif, Ibu yang hebat, orator ulung, pemimpin yang jempolan.. Lha aku? Baru belajar…. Orasi saja nggak berani.
Yang pasti kami punya 2 kesamaan!

Luviana
Luviana Gadis merah dan gadis hitam..sama sama militan..

Gadis Merah
Gadis Merah
Gadis Merah Aku blm bs bhs inggris sementara Yohana udah melancong kemana-mana

Luviana
Tulis komentar…

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Luviana: Internet dan Perempuan

Luviana

KBR, Jakarta – Melalui sebuah pertemuan kecil, dalam sebuah diskusi setelah makan siang, ada sejumlah aktivis perempuan di Indonesia yang kemudian berbincang-bincang tentang keberadaan internet bagi perempuan. Tak hanya di Jakarta, sebuah pertemuan di Bangkok, dalam konferensi Perempuan Asia Pasifik Beijing+20 pada November 2014 lalu, topik internet dan perempuan menjadi topik yang sangat hangat dibicarakan oleh organisasi masyarakat sipil dari berbagai negara.

Sejak awal mula kehadirannya, Internet diakui kehadirannya membawa ruang baru pada udara demokrasi. Masyarakat yang tak bisa menembus media mainstream, bisa menggunakan internet untuk melakukan partisipasi publik. Coba kita lihat, dengan datangnya internet, masyarakat kini dengan leluasa bisa melakukan kritik terhadap kebijakan pemerintah yang merugikan publik. Mereka juga memanfaatkan ruang-ruang di internet untuk berpikir kritis. Sesuatu yang dulu sulit untuk dilakukan.

Namun dalam sebuah forum yang membahas media, internet dan perempuan yang diadakan forum masyarakat sipil di Bangkok, 15 November 2014 lalu, ternyata banyak negara yang masyarakatnya belum bisa menikmati internet.

Di Srilangka misalnya, masih sedikit orang yang bisa mengakses internet, apalagi perempuan. Perempuan disana kesulitan untuk mengakses internet. Teknologi disana masih identik merupakan alat yang hanya digunakan laki-laki.

Di Timor Leste, kondisinya lebih memprihatinkan. Tak banyak yang bisa mengakses internet karena harganya yang sangat mahal. Perempuan di Timor Leste menjadi sulit mengakses internet.

Kondisi di Thailand lebih baik, karena akses pada internet saat ini lebih murah dari beberapa tahun lalu. Walaupun kondisi di Thailand belum sebaik di Indonesia, karena di Thailand akses internetnya yang masih lumayan mahal.

Kondisi yang lain terjadi di Malaysia. Pemerintah Malaysia saat ini masih sering melakukan sensor terhadap internet untuk tayangan yang dianggap mengandung unsur pornografi. Hal ini juga berakibat pada kebijakan yang membuat akses publik terhadap internet menjadi dibatasi.

Tak hanya orang dewasa saja yang kini menikmati internet, anak-anakpun sudah menjadi penikmat internet. Mereka biasanya bermain game atau mengakses sosial media seperti facebook dan juga mengakses youtube. Biasanya para perempuan dan ibulah yang kemudian mendampingi anak-anak mereka agar mengakses internet sehat.

Philipina adalah daerah yang penggunaan internetnya sudah sangat maju. Para aktivis perempuan disana umumnya sudah menjadikan internet sebagai bagian dari advokasi, baik digunakan oleh lembaga maupun individu-individu. Salah satu organisasi perempuan di Philipina, ISIS Internasional Manila sudah lama menggunakan internet sebagai bagian dari advokasi perjuangan untuk perempuan.

Dalam pertumbuhannya hingga kini, internet memang sudah dilakukan sebagai alat untuk advokasi, namun di Indonesia, hal itu baru terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Semarang dan sejumlah kota besar lain.

Di Papua misalnya, hanya daerah-daerah yang berdiri perusahaan transnasional dan di Jayapura saja yang bisa mengakses Handphone maupun internet. Di pedalaman, jangankan internet, akses masyarakat dalam menggunakan Handphone saja masih sulit dilakukan. Jika ada perusahaan transnasional yang berdiri, maka yang dibangun adalah jalan dan internet.

“Yang dibangun hanya infrastruktur seperti jalan, internet, tak lebih dari itu,: ujar Yuliana Langowuyo, salah satu aktivis perempuan Papua.

Kondisi yang tak jauh beda juga terjadi di Nusa Tenggara Timur. Anna Djukana dari Kelompok Lopo Belajar Gender menyatakan bahwa di NTT internet hanya bisa diakses oleh kalangan menengah ke atas, masih banyak kalangan menengah ke bawah dan masyarakat yang tinggal di pedalaman tak bisa mengaksesnya.

Data Asosiasi Pengelola Jasa Internet (APJATI) di tahun 2013 memperkirakan, pengguna internet di Indonesia baru sekitar 30%. Artinya sebanyak 70% masyarakat Indonesia belum bisa mengakses internet. Jika di Jakarta, internet bisa diakses publik, namun tidak begitu di daerah lain. Kesenjangan inilah yang harus diurus oleh pemerintah. Dan tuntutan lain, yaitu pemerintah harus menjamin agar tidak terjadinya diskriminasi yang terjadi pada perempuan dalam penggunaan akses internet.

Dalam forum konferensi perempuan Beijing+20 itulah maka pemerintah negara-negara Asia pasifik anggota PBB termasuk Indonesia sudah menandatangani hasil konferensi yang berbunyi: ” Pemerintah akan membuka partisipasi terhadap perempuan di media dan dalam menggunakan teknologi dan memastikan tidak terjadi kesenjangan dan diskriminasi terhadap perempuan dalam penggunaan teknologi.”

Semoga, ini benar-benar menjadi pekerjaan rumah yang penting bagi pemerintah Indonesia.

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Yuliana Langowuyo: Untuk Perempuan Papua, di Tanah ini Kami Berjuang

Luviana

KBR, Jakarta – Hari itu udara Jakarta kurang bersahabat, namun ini tak menyurutkan sejumlah aktivis perempuan dari berbagai daerah untuk berdiskusi soal diskriminasi yang dialami para perempuan di Indonesia. Awal Desember memang sering membuat masyarakat yang tinggal di perkotaan Jakarta menjadi repot, karena harus berjalan menembus hujan. Namun tentu ini tak dialami para petani yang tinggal di pelosok pedalaman Indonesia, saat ini mereka pasti sedang berangan-angan, untuk mendapatkan hasil panen yang lebat.

Yuliana Langowuyo adalah aktivis perempuan asal Papua yang mengikuti pertemuan membahas diskriminasi terhadap perempuan yang diadakan Cedaw Working Group Indonesia (CWGI) di Jakarta, pada 12 Desember 2014 lalu. Di tengah hujan lebat, wajahnya selalu tampak murung ketika menceritakan penderitaan yang dialami para perempuan Papua. Ia tampak menunduk, sesekali menyeka airmatanya, sambil menahan diri agar airmata lainnya tak lagi menetes.

Yuliana adalah aktivis perempuan dari Sekretariat Keadilan Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan Fransiskan Papua (SKPKC) Fransiskan Papua yang banyak membela nasib buruh perempuan di pedalaman Papua. Ia sering keluar masuk Yahukimo, wilayah paling ujung Papua dan sejumlah daerah pedalaman lain seperti Sarmi, Merauke hingga Nabire.

Papua kembali menjadi perbincangan hangat ketika kekerasan terus beruntun terjadi disana, dari pembunuhan, tawuran hingga diskriminasi terhadap perempuan. Apa saja sebenarnya persoalan perempuan Papua di tengah konflik dan kekerasan yang terus-menerus mendera masyarakat disana?

 

Luviana (L): Apa saja kekerasan yang masih menimpa para perempuan Papua?. Ketika Kongres Perempuan Papua pertamakali dilakukan di tahun 2001, ada persoalan perkosaan yang dilakukan militer, ada persoalan pesta adat yang mendiskriminasi perempuan. Apakah ini masih terjadi hingga kini?

Yuliana (Y): Sebenarnya ada situasi yang lebih baik. Jika dulu banyak perempuan Papua yang diperkosa oleh militer yang sedang bertugas di Papua, sekarang jumlah ini sudah relatif menurun. Walaupun modusnya tetap sama saja, yaitu atas dasar suka sama suka, kemudian perempuan Papua menikah dengan laki-laki militer. Jadi semua dilakukan atas dasar suka sama suka, bukan karena perkosaan. Mereka biasanya kemudian menikah di gereja. Namun Ketika laki-laki ini harus kembali ke tempat asalnya, para perempuan Papua kemudian ditinggalkan begitu saja dan harus mengurus anaknya sendiri. Anak-anak ini umumnya dibesarkan tanpa ayah. Gereja sulit untuk bergerak karena mereka memang menikah resmi di gereja, dan para perempuan kemudian tidak menyadari kondisi ini. Mereka tak pernah sadar bahwa mereka adalah korban kekerasan. Korban pengabaian laki-laki.

 

L: Bagaimana dengan pesta adat atau yang lebih dikenal dengan pesta seks yang banyak dilakukan oleh laki-laki disana? Apakah ini masih selalu terjadi?

Y: Pesta adat itu hingga sekarang masih terjadi di sejumlah tempat walau kondisinya tidak sebanyak dulu. Biasanya setelah pesta usai, laki-laki boleh memilih dengan siapa saja ia akan berhubungan seksual, karena memang ada tradisi seperti itu. Dan laki-laki tersebut kemudian tidak dibatasi dengan siapa saja ia akan memilih berhubungan seksual, apalagi jika ia adalah ketua adat. Ia bebas untuk memilih. Semakin tinggi jabatannya secara adat, maka semakin ia leluasa untuk menentukan pilihannya. Banyak laki-laki yang punya pasangan kemudian melakukan hubungan seksual dengan siapa saja dia mau. Ini yang kemudian menyebabkan angka HIV/AIDS menjadi tinggi di Papua. Tak hanya itu, ini menjadi penyebab angka kekerasan dalam rumah tangga yang meningkat setiap tahun.

L: Masalah lain yang masih membelit persoalan perempuan Papua?

Y: Persoalan mas kawin masih saja terus terjadi. Ketika perempuan memutuskan untuk menikah, maka laki-laki harus memberinya mahar atau belis. Mahar atau belis ini seperti pertanda budaya bahwa perempuan sudah dibeli. Hal inilah yang banyak menyebabkan kekerasan terhadap perempuan karena perempuan seolah-olah sudah menjadi milik laki-laki, jadi semua perempuan harus menerima semua tingkah laku laki-laki.

 

L: Bagaimana dengan kedatangan perusahaan-perusahaan transnasional di Papua?

Y: Kedatangan perusahaan transnasional di Papua menambah buruk kondisi ini. Mereka tak hanya mengambil sumber daya alam kami, namun menjadikan masyarakat Papua hanya menjadi penonton dan menjadi buruh-buruh perusahaan transnasional yang dibayar murah. Berdirinya perusahaan transnasional ini juga menjadikan banyak berdirinya warung-warung penjual minuman keras. Banyak laki-laki yang kemudian banyak minum minuman keras. Hal ini juga menumbuhkan tempat-tempat prostitusi terselubung dan menyebabkan jumlah HIV/AIDS menjadi tinggi.

 

L: Kemajuan yang dialami di Papua sejauh ini?

Y: Banyak pemekaran yang telah dilakukan, namun ini seperti pemekaran yang tak punya nyawa.

 

L: Apa yang dilakukan para perempuan Papua dengan kondisi ini?

Y: Banyak teman-teman perempuan yang kemudian putus asa melihat kondisi ini. Apalagi jika suami mereka melakukan kekerasan. Mereka lalu bekerja seadanya untuk menghidupi rumah tangga, ada yang berjualan pinang, menjadi buruh serabutan, yang penting anak-anak mereka tetap bisa makan.

 

L: Sebagai aktivis perempuan, bagaimana anda menerima ini dan kemudian menjadikan ini sebagai sebuah keputusan untuk diperjuangkan?

Y: Saya melihat, tidak adanya akses keadilan yang diurus oleh negara selama ini. Negara membiarkan para pelanggar Hak Asasi Manusia berkeliaran di Papua. Karena gagal berjuang di negeri sendiri, maka kami dan beberapa kawan lain kemudian memperjuangkan persoalan ini dalam mekanisme internasional. Kami hadir dalam forum-forum HAM internasional agar mereka membantu menyelesaikan persoalan kami di Papua. Walaupun kami tahu bahwa memperjuangkan ini sangat tak mudah. Banyak kepentingan di Papua, kepentingan negara, kepentingan asing melalui perusahaan-perusahaan transnasional di negeri kami. Namun kami sadar, kami harus memperjuangkan ini.

 

L: Tak pernah merasa putus ada dengan kondisi ini?

Y: Tak cukup bagi kami untuk meratap, kami harus berjuang , untuk tanah-tanah kami di Papua, untuk masyarakat yang masih mempunyai impian untuk tetap tinggal disana.

 

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Perempuan Timor Leste, Ceritamu Kini

Luviana

KBR, Thailand – Menjumpai Filomena Barros Reis (50) seperti menjumpai kawan lama yang hilang, lalu bertemu kembali. 14 tahun lalu-tepatnya tahun 2000- dalam sebuah pertemuan singkat di Bangkok, Thailand, Filomena Barros hadir dengan mata berkaca-kaca. Suaminya hilang. Teman-teman perempuannya tertembak mati.

Masa lalunya sangat kelam. Mena, begitu ia biasa dipanggil, adalah seorang aktivis perempuan di Timor Leste. Ia berjuang untuk mencapai merdeka dari kepongahan tentara Indonesia di masa itu. Pencariannya pada suaminya yang tak kunjung bertemu dan kehilangan banyak saudara dan teman merupakan kisah pahit yang ia simpan hingga kini.

Namun dalam pertemuan tak terduga pada siang di pertengahan November ini, dalam Konferensi Perempuan Asia Pasifik: Beijing+20 di kota Bangkok, ia tak lagi menangis. Ia memeluk hangat. Ia justru mensyukuri perjumpaan kami kembali.

“Bangkok telah mempertemukan kita kembali. Saya senang bertemu orang Indonesia dan kami sudah merasa seperti saudara sekarang. Kini saya sudah bisa pelesir kemana-mana tanpa rasa takut. Anak-anak saya punya harapan baru,” itu katanya.

Dulu ia selalu menangis jika becerita tentang banyaknya saudara dan teman-temannya yang meninggal, tertembak dalam peristiwa Timor-timor. Betapa ia mendambakan sebuah kemerdekaan dengan rakyat yang bertumbuh.

“Tak apa bertumbuh dari nol, yang paling penting kami bisa bebas dan bekerja membangun negeri kami sendiri. Walau kami sedang membangun banyak hal, pembangunan manusia, pelatihan pemuda-pemudi untuk misi persahabatan antar negara,” Itu katanya.

Saat ini Timor Leste adalah negeri yang sedang membangun, kemiskinan tampak terjadi di sejumlah tempat, akses internet yang masih sulit dan penataan kembali infrastruktur dengan pemerintahan yang baru.

“Tapi kami senang karena kami sudah merdeka, bicara merdeka berarti bicara aspirasi. Kami sedang membangun keadilan ekonomi, keadilan untuk bersuara, apa yang saya harapkan terjadi kini.”

Filomena memulai ceritanya. Pasca Timor Leste merdeka, ia sempat ke Swedia untuk bersekolah selama setahun. Setelah itu ia kembali ke Timor Leste dan memutuskan untuk mengelola sebuah lembaga perempuan. Pada tahun 2011 karena kegigihannya dan perjuangannya di isu perdamaian, ia kemudian mendapatkan penghargaan N-Peace Award dari Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) dan jaringan perempuan perdamaian dunia.

“Saya senang mendapat penghargaan itu, itu penghargaan yang sangat berharga bagi negeri kami,” begitu Filomena Baros.

Tak mudah memang hidup di daerah pasca konflik. Data AJAR (Asia Justice and Right) menunjukkan bahwa dari 140 perempuan yang berada di daerah konflik dan mengalami persoalan, hanya ada 10 orang yang mau melanjutkan perjuangannya hingga ke pengadilan. Kasus ini banyak menimpa para perempuan pasca konflik di Indonesia, Myanmar dan Timor Leste.

Di lembaga perempuan dan perdamaian yang dibangunnya, Mena kemudian juga berjuang untuk partisipasi perempuan dalam politik. Di negara yang baru merdeka ini, Mena kemudian ikut meletakkan dasar pembangunan untuk perempuan. Menurutnya perempuan harus mempunyai akses politik, ekonomi, sosial dan budaya yang sama dengan laki-laki.

“Karena kami sedang membangun, maka antara masyarakat sipil dan pemerintah saling bekerjasama. Kita bisa melihat bahwa partisipasi perempuan dalam politik di Timor Leste sangat tinggi yaitu 38%, 2 orang perempuan duduk di posisi menteri dan kami sudah mempunyai menteri pemberdayaan perempuan, bahkan kami sudah mempunyai kaukus perempuan politik.”

Anak-anaknya kini sudah besar, ia besarkan anaknya sendiri tanpa suami yang hilang di masa gelap sebelum merdeka. Nivea Elizabeth Carlota kini sudah berumur 31 tahun dan menjadi sutradara film ternama di Timor Leste. Salah satu filmnya yaitu “Betrice War” adalah film yang bercerita tentang perjuangan masyarakat Timor Leste merebut kemerdekaan dari Indonesia. Film itu kini banyak disukai masyarakat disana dan telah diputar berulangkali.

Anak kedua adalah Rotilia Julio Christina yang kini duduk di fakultas Kedokteran Universitas Nasional Timor Leste.

“Walau kondisi kami dulu selalu dalam tekanan, namun saya selalu mengajarkan perdamaian pada anak-anak saya. Saya tak pernah mengajarkan anak-anak untuk membenci musuh, tetapi saya selalu mengajarkan pada mereka agar mencintai musuh atau mengasihi orang yang membenci kita. “

Tak punya dendam pada orang Indonesia, Mena?

“ Tidak pernah, kami hanya membenci perilaku tentara Indonesia di masa lalu. tetapi bukan membenci masyarakat Indonesia. Karena masyarakat Indonesia sebenarnya tidak banyak yang tahu apa yang terjadi pada kami dulu.”

Keyakinannya inilah yang sering ia paparkan dalam pidato-pidato dalam forum-forum perdamaian internasional. Ia pernah berpidato di forum perdamaian di Genewa, di Australia dan di tingkat Asia. Ia selalu mengawali pidato masa lalunya dengan menangis, dan kemudian mengakhirinya dengan tersenyum.

“Saya lega, sudah melampaui masa lalu yang gelap, dan kini punya saudara baru, yaitu orang-orang Indonesia.”

Matanya tetap saja memerah, ia tak bisa menyembunyikan rasa pedih. Teringat suaminya yang telah lama hilang.

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Luviana: Lelaki Camar

Apa yang kau pikirkan ketika musim daun kering ini datang?

Kau ingin tahu kabarku?

Semua ada dalam surat-suratmu
Yang kau kirim tadi pagi
Ketika matahari bersinar sangat terik dalam Hujan yang selalu membayangi

Aku memikirkanmu
Pada matamu yang selalu berpaling
Juga pada jawabmu yang selalu ragu

Tak pantas memang kulabuhkan rindu

Aku bermimpi tentang camar terbang
Yang berani menatap sinar
Yang tak sembunyi dalam sunyi
Dan yang suaranya menggetarkan: tak ada yang perlu kita takutkan, kata si camar

Siapakah laki-laki itu?
Yang setinggi burung camar
Dan sekokoh sayap merpati?

Ini jawabku untukmu
Untuk laki-laki yang selalu bertanya tentang kabar
Tetapi hatinya selalu ragu

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized